x

Daftar Tunggu Menuju Langit

waktu baca 11 menit
Kamis, 25 Jun 2026 06:52 0 5 PPU

Di meja pendaftaran ruang bedah nomor empat, waktu bukanlah jam dinding yang berdetak, melainkan kursor yang berkedip-kedip di atas layar monitor perangkat digital generasi awal yang kusam. Suryo adalah penguasa kursor itu. Baginya, nyawa manusia hanyalah deretan huruf berwarna hijau yang bisa dipindahkan ke atas atau digeser ke bawah dengan satu klik yang sangat sunyi. Tidak ada suara teriakan saat ia menukar posisi seorang pensiunan guru yang sudah mengantre enam bulan dengan seorang pengusaha mebel yang baru datang pagi tadi sambil membawa map plastik berisi aroma parfum mahal dan selipan kertas merah yang licin.

Di ruangan yang harum karbol ini, maut dipaksa belajar mengantre, dan Suryo adalah petugas karcisnya yang paling setia. Ia tidak merasa sedang membunuh siapa pun, ia hanya sedang merapikan nasib agar sedikit lebih berpihak pada mereka yang tahu cara berterima kasih. Namun, setiap kali kursor itu berpindah, seolah-olah ada sepotong kabel oksigen yang tergunting di suatu tempat yang jauh, meninggalkan suara desis napas yang panjang, kering, dan sia-sia.

Suryo benci jari telunjuknya sendiri. Terutama kalau sudah sore, jari itu sering berdenyut, seolah-olah sendinya kemasukan pasir. Mungkin karena dia terlalu sering menekan tombol Enter. Klik. Satu nama naik. Klik. Satu nama turun. Di depannya, monitor itu memancarkan cahaya biru yang membuat matanya perih dan berair. Ia sering mengucek mata dengan punggung tangan yang masih bau puntung rokok murahan, membuat matanya merah seperti orang kurang tidur—atau orang yang habis menangis, meski Suryo sudah lupa kapan terakhir kali ia merasa sedih karena hal-hal yang sifatnya medis.

Ibunya Pak Broto, yang di kamar 302, tolong ya Mas. Ini ada sedikit titipan buat beli kopi,” bisik seorang perawat berwajah pucat yang datang membawa map biru.

Suryo tidak menjawab. Ia hanya menggeser map itu sedikit ke sisi meja yang lebih gelap. Jempolnya sibuk mencungkil sisa makanan di sela gigi gerahamnya. Ia merasa tidak ada yang luar biasa. Baginya, urutan operasi itu cuma daftar belanjaan. Kalau ada yang mau bayar lebih untuk telur yang paling mulus, ya silakan. Ia mengklik mouse lagi. Nama seorang laki-laki dari desa, yang alamatnya bahkan tidak terbaca jelas di sistem, mendadak lenyap dari urutan besok pagi. Nama itu turun jauh ke bawah, tenggelam di balik barisan nama-nama lain yang lebih “berbobot”.

Di kepalanya, Suryo cuma membayangkan cicilan motornya yang kurang dua bulan lagi. Ia membayangkan rasa dingin es teh manis yang sebentar lagi akan ia minum di kantin bawah. Tapi entah kenapa, tenggorokannya mendadak terasa kering. Ia berkali-kali menelan ludah, tapi rasanya seperti menelan kerikil.

Lalu ada suara berisik dari arah IGD. Decit roda tandu yang tidak diberi pelumas. Sebaru bagaimanapun, perangkat tandu beroda kalau tidak dirawat dengan baik pasti juga cepat karatan. Bunyi itu melengking, menusuk telinga, beradu dengan suara sandal jepit yang terseret-seret di atas lantai marmer. Suryo tidak menoleh. Ia benci melihat wajah-wajah orang yang datang dengan napas yang sudah di ujung hidung. Ia lebih suka melihat layar. Di layar, semuanya bersih. Tidak ada darah, tidak ada bau pesing, tidak ada suara tangis yang parau. Di layar, semuanya hanya angka dan huruf.

Suryo mematikan layar monitor saat jam dinding menunjukkan pukul empat. Ia berdiri, meregangkan punggungnya sampai berbunyi krek, lalu merapikan letak dompetnya yang terasa lebih tebal di saku belakang celana. Saat ia berjalan keluar, ia melewati tandu di lorong yang kini sudah tertutup kain jarik kusam. Satu kaki pucat mencuat dari balik kain, jempol kakinya kaku, dengan gelang kertas kuning melingkar di pergelangan kaki. Suryo berhenti sebentar. Ia merasa pernah melihat nama yang tertulis di gelang kuning itu di layarnya tadi. Tapi ah, semua nama di sini hampir mirip.

Ia berjalan terus. Ia sibuk meraba saku celananya, mencari kunci motor. Ia merasa lapar. Sangat lapar. Ia ingin makan sate kambing yang lemaknya banyak. Masa bodoh dengan urutan-urutan itu. Toh, kalau pun ia tidak memindahkan nama itu, orang-orang akan mati juga pada akhirnya. Semua orang cuma sedang menunggu antrean masing-masing, pikirnya sambil meludah ke selokan di parkiran. Ludahnya kental dan pahit.

Suryo menarik napas panjang, menghirup udara parkiran yang campur aduk antara asap knalpot dan bau sampah basah. Motornya susah nyala. Ia harus menggenjot kick starter berkali-kali sampai betisnya pegal. Sialan, pikirnya. Uang di sakunya sudah cukup buat beli motor baru kalau dia mau, tapi dia masih setia dengan rongsokan ini, mungkin supaya orang-orang di kantor tidak terlalu curiga kenapa gaya hidupnya mendadak berubah.

Di jalan pulang, lampu merah terasa lebih lama dari biasanya. Ia melihat seorang pedagang asongan mengetuk kaca mobil mewah di sebelahnya. Si pedagang punya mata yang cekung, persis seperti mata orang-orang yang setiap hari berdiri di depan mejanya, memelas minta jadwal operasi dimajukan. Suryo membuang muka. Ia benci mata seperti itu. Mata yang seolah-olah menyalahkan seluruh dunia atas nasib mereka sendiri.

Sesampainya di rumah, istrinya sedang menggoreng ikan. Baunya amis, memenuhi ruang tamu yang sempit.

“Tadi ada orang datang, Mas. Ngantar keranjang buah. Katanya dari keluarga pasien yang Mas bantu kemarin,” istrinya bicara sambil membalik ikan di wajan.

Suryo cuma berdehem. Ia melepas sepatu, kaos kakinya bolong di bagian jempol. Ia melihat keranjang buah itu di atas meja makan. Apelnya merah mengkilap, tampak terlalu sempurna untuk rumah sekecil ini. Ia mengambil satu, menggigitnya keras-keras. Rasanya manis, tapi ada getir yang tertinggal di pangkal lidahnya.

Malamnya, Suryo tidak bisa tidur nyenyak. Kamar terasa panas, padahal kipas angin sudah diputar ke angka tiga. Setiap kali dia memejamkan mata, dia melihat kursor di layar monitornya tadi siang. Kursor itu berkedip-kedip, makin lama makin cepat. Klik. Klik. Klik. Bunyinya seperti suara detak jantung yang lewat stetoskop.

Lalu dia teringat kaki pucat di lorong rumah sakit tadi. Kaki dengan gelang kuning. Dia mencoba mengingat-ingat nama yang tertera di sana. P… Pa… Panut? Atau Poniman? Ah, lupakan.

Ia bangun, berjalan ke dapur untuk minum. Di kegelapan, ia melihat siluet keranjang buah itu. Entah karena pengaruh cahaya bulan atau matanya yang lelah, buah-buah apel itu tampak seperti potongan daging yang memar. Ia mendadak merasa mual. Perutnya melilit. Ia jongkok di depan bak cuci piring, berusaha memuntahkan apa pun, tapi yang keluar cuma cairan bening yang asam.

Suryo datang saat shift malam belum benar-benar bubar. Tidak ada kata sepi di sini. Di benak Suryo, rumah sakit ini seperti mesin raksasa yang terus mengunyah nyawa tanpa henti. Di lorong menuju ruang tunggu operasi, bangsal-bangsal berderet seperti gerbong kereta yang tak punya tujuan. Suara lantai dipel bukan suara yang menenangkan, tapi suara gesekan karet yang menjengit di telinga, beradu dengan suara mesin uap dari laundry dan teriakan perawat yang memanggil nama pasien lewat pengeras suara yang sember. Pecah dan terdistrorsi.

Ia duduk di kursinya, tepat di samping dispenser yang airnya sudah habis dan hanya mengeluarkan bunyi glug-glug yang hampa. Teman shift malamnya, seorang pria paruh baya dengan mata yang hampir menutup, menyerahkan tumpukan berkas tanpa sepatah kata pun. Mereka hanya bertukar tempat duduk, seperti dua robot yang berganti baterai.

Suryo menyalakan monitornya. Di balik dinding itu, ia bisa mendengar suara bor ortopedi yang berdengung membelah tulang dan desis pengisap cairan yang menyedot darah dari rongga terbuka, suara-suara mahal dari mesin impor yang sedang berpacu melawan maut, sementara Suryo di mejanya sibuk menghitung angka.

Lalu ia melihat catatan dari dr. Gunawan yang terselip di bawah keyboard-nya yang berminyak.

“Suryo, pasien nomor urut 1 yang kamu masukkan kemarin, Ibu Rahayu, gagal operasi. Komplikasi. Tapi yang lebih repot, keluarga pasien yang kamu geser namanya kemarin—si kakek dari desa itu—meninggal di selasar IGD jam dua pagi tadi.

Suryo terdiam. Jempolnya yang kasar mulai menggaruk-garuk pinggiran meja yang kayunya sudah mengelupas. Di luar ruangan, ia melihat seorang wanita dengan mata sembab—ibu-ibu yang sama—sedang duduk di lantai selasar, bersandar pada dinding yang catnya sudah menguning. Ibu itu tidak membawa nasi uduk. Ia hanya memegang sebuah kantong plastik berisi pakaian bekas dan sandal jepit karet yang salah satu talinya sudah putus. Sandal milik Pak Prawiro.

Ibu itu menatap ke arah pintu ruang operasi dengan pandangan kosong. Ia tidak tahu bahwa pria yang duduk di balik kaca buram, yang sedang pura-pura sibuk dengan layar komputer, adalah orang yang telah mencuri waktu bapaknya.

Suryo mencoba fokus. Ia harus menghapus data itu. Ia harus membuat Pak Prawiro seolah-olah memang tidak pernah punya jadwal untuk hari ini. Tapi tangannya terasa berat. Mouse di genggamannya terasa panas, seolah-olah benda plastik itu baru saja dikeluarkan dari dalam tungku pembakaran.

Ia menatap nama Prawiro yang berstatus Deceased. Jarinya bergerak ke tombol Delete. Tapi tepat saat itu, pintu ruang operasi di sebelahnya terbuka kasar. Sebuah brankar didorong keluar dengan tergesa-gesa. Roda tandunya yang tidak diberi pelumas itu menjerit, suaranya melengking membelah kebisingan lorong. Ngeeeek…

Suryo tersentak. Suara itu persis seperti suara robot mainan anaknya yang baterainya mulai habis. Ia merasa lorong itu mendadak menyempit. Bau amis darah yang samar-samar merembes dari balik pintu operasi seolah-olah mengepung mejanya. Ia merasa mual. Di layar monitor, kursor itu terus berkedip. Menunggu instruksi. Menunggu untuk melenyapkan satu nama lagi agar laporan administrasi terlihat suci tanpa noda.

Ia menelan ludah. Rasa pahit yang tak hilang-hilang sejak semalam kini terasa seperti tembaga di ujung lidahnya. Suryo menyadari satu hal: di rumah sakit yang tidak pernah tidur ini, ia hanyalah bagian dari mesin yang terus berputar. Masalahnya, ia adalah baut yang sudah karatan, yang setiap putarannya harus dibayar dengan nyawa orang lain agar mesin ini tetap bisa berjalan lancar.

Suryo akhirnya menekan tombol Delete. Nama Prawiro hilang dari layar, seolah-olah lelaki tua itu memang tidak pernah menginjakkan kaki di lantai rumah sakit ini. Hilang tanpa sisa, seperti debu yang disapu ke bawah karpet.

Ia lalu mengambil bungkusan nasi uduk dari atas mejanya—pemberian ibu-ibu yang bapaknya ia geser tadi. Ia membukanya perlahan. Aroma santan dan bawang goreng menguar, menusuk hidungnya yang sejak pagi hanya menghirup bau amis dan pembersih lantai. Tangannya yang baru saja melenyapkan jejak nyawa orang, kini dengan tenang menyuap nasi itu ke dalam mulutnya.

Suryo mengunyah perlahan. Rasanya gurih. Ia tidak merasa berdosa, ia hanya merasa lapar.

Tiba-tiba, telepon di mejanya berdering. Suara kepala perawat dari ruang sebelah. “Suryo, ada titipan lagi dari dr. Anwar. Pasien VIP buat jadwal besok pagi. Masukkan ke urutan pertama ya. Datanya sudah saya kirim ke sistem.”

Suryo menelan nasinya dengan susah payah. Tenggorokannya terasa seperti disumbat segumpal kapas basah. Ia kembali menatap monitor. Di sana, sudah ada satu nama baru yang berkedip-kedip, menanti untuk naik ke atas dengan menginjak nama-nama di bawahnya.

Ia mengklik mouse lagi. Klik.

Satu nama turun. Satu nama naik.

Di luar, suara sirine ambulans kembali terdengar, membelah kemacetan kota yang gila. Suryo tidak lagi menoleh. Ia hanya terus mengunyah nasi uduknya, sambil matanya terpaku pada kursor yang terus berkedip, seperti detak jantung sebuah mesin yang tidak akan pernah berhenti, selama masih ada orang yang bersedia membayar untuk sekadar bernapas lebih lama.

Suryo membuang bungkus nasi itu ke tempat sampah di bawah meja. Di dalamnya, kertas pembungkus nasi itu perlahan terbuka, memperlihatkan sobekan koran bekas yang memuat berita tentang peresmian gedung baru yang megah. Ia mengusap sisa minyak di bibirnya dengan punggung tangan, lalu kembali menggenggam mouse.

Daftar tunggu esok hari masih sangat panjang, dan ia harus memastikan tidak ada satu pun nama yang “salah tempat” sebelum shift-nya berakhir.

Suryo menekan tombol Power pada monitornya, tapi bayangan daftar nama itu seolah-olah terbakar di retinanya, tetap berkedip dalam gelap. Di luar, bor ortopedi telah berhenti meraung, digantikan oleh kesunyian koridor yang hanya diisi oleh deru mesin pembersih udara. Ia meraba amplop di sakunya; benda itu terasa tipis, namun entah mengapa, setiap langkah Suryo menuju parkiran terasa seperti menyeret beban ribuan ton beton—beban dari sawah-sawah yang akan terbengkalai, sekolah-sekolah yang akan sepi, dan sebuah kepercayaan bangsa yang baru saja ia amputasi tanpa bius di meja nomor empat.

Ia menyadari bahwa ia tidak sedang mencuri uang, ia sedang mencuri napas dari masa depan anaknya sendiri. Saat ia menyalakan motor rongsokannya, suara sirine ambulans kembali membelah malam, melengking panjang seolah sedang memanggil namanya. Suryo tidak menoleh. Ia hanya terus melaju, membelah kegelapan kota, sambil merasakan sisa rasa nasi uduk pemberian korban itu mengganjal di kerongkongannya—sebuah rasa gurih yang mendadak berubah menjadi pahit tembaga, yang ia tahu, tak akan pernah bisa ia muntahkan sampai kapan pun.

Cerpen: Lais Abid

Cerpen ini salah satu kandidat untuk diikutsertakan pada Pemecahan Rekor MURI Penulisan Cerpen Antikorupsi 2026. Namun dengan berbagai pertimbangan tidak jadi diikutsertakan.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA
x