

Di papan tulis, angka-angka itu tampak sangat sopan. Mereka berbaris rapi, putih bersih tersapu kapur, menunggu untuk dijumlahkan atau dikurangi dalam sebuah soal cerita yang dimulai dengan kalimat: “Ibu pergi ke pasar membawa uang seratus ribu rupiah…”

Maya menatap angka 100.000 itu dengan kening berkerut. Baginya, angka itu tidak terasa seperti kapur. Angka itu terasa seperti bau tabung gas melon, suara gerutu penagih listrik, dan bunyi gesekan koin di dasar kaleng biskuit yang hampir kosong. Di buku cetak Matematika halaman 42, angka seratus ribu adalah sebuah kepastian yang menyenangkan—ia bisa membeli tiga kilo ayam, dua kilo telur, dan masih menyisakan kembalian untuk ditabung.
Namun, di kepala Maya, matematika tidak pernah bekerja sesederhana itu.
“Maya, kenapa belum menulis?” suara Bu Guru memecah lamunan, sedingin ubin kelas yang baru dipel. “Ini soal pengurangan sederhana. Hanya butuh logika.”

Maya menunduk. Ia memegang pensilnya erat-erat hingga buku jarinya memutih. Logika, pikirnya. Ia mulai membayangkan ibunya yang duduk di meja makan tadi malam, menghitung selembar uang lima puluh ribuan yang lusuh, membaginya untuk ongkos bus, uang jajan Maya, dan biaya tambal ban motor yang sudah gundul. Dalam logika ibunya, seratus ribu bukanlah angka yang bisa dikurangi dengan barang belanjaan, melainkan sebuah teka-teki tentang mana yang harus dikorbankan agar mereka tetap bisa bernapas sampai besok pagi.
Maya mulai menulis. Bukan angka, melainkan sebuah daftar.
Maya tidak menuliskan hasil akhir. Di kotak jawaban yang seharusnya berisi angka bersih, ia menuliskan sebuah rincian yang berantakan, seolah-olah pensilnya sedang menggali tanah:
100.000 – (Harga beras 2kg yang kutuannya banyak) = 74.000
74.000 – (Obat maag Ibu supaya tidak perih saat lembur) = 62.000
62.000 – (Cicilan panci yang ditagih pria berjaket kulit tadi pagi) = 42.000
42.000 – (Tambal ban motor yang bocor kena paku di jalan berlubang) = 32.000
32.000 – (Susu sachet untuk adik agar berhenti menangis jam dua pagi) = 28.000
Maya berhenti sejenak. Matanya panas. Ia ingat sisa uang di dompet ibunya tadi pagi bukan 28.000, melainkan nol. Ada variabel yang hilang. Ia menambahkan baris terakhir dengan tangan gemetar:
28.000 – (Uang yang dicuri Ayah sebelum pergi entah ke mana) = 0
“Maya!”
Suara Bu Guru menggelegar. Sepatu pantofelnya yang mengkilap berhenti tepat di samping meja Maya. Ia menyambar kertas itu dengan gerakan kasar, matanya menyapu tulisan Maya seolah-olah itu adalah noda yang mengotori kesucian ruang kelas.
“Apa-apaan ini? Ini pelajaran Matematika, Maya! Bukan buku harian, bukan cerpen, bukan tempat mengeluh!” Bu Guru membanting kertas itu kembali ke meja. Mukanya merah padam. “Logika itu tunggal! Seratus ribu dikurangi belanjaan sesuai soal itu hasilnya harus dua puluh ribu rupiah! Kenapa kamu memasukkan biaya tambal ban? Kenapa ada cicilan panci? Ini tidak ada di soal!”
Seluruh kelas terdiam. Napas Bu Guru memburu, ia merasa dihina oleh imajinasi liar seorang murid yang dianggapnya tidak disiplin.
“Dunia tidak peduli pada nasib ban motormu, Maya! Di papan tulis ini, yang ada hanyalah angka. Jika kamu tidak bisa memisahkan perasaanmu dari angka, kamu akan gagal selamanya!”
Maya tetap menunduk. Ia tidak menangis. Ia hanya merasa heran, bagaimana bisa sebuah angka di papan tulis begitu berkuasa, sementara angka di dompet ibunya begitu tak berdaya.
Bu Guru hendak melanjutkan amarahnya, namun matanya tak sengaja menangkap baris paling bawah. Baris tentang uang yang dicuri sang ayah. Ia terdiam. Kalimat makian yang sudah di ujung lidah mendadak membeku.
Ia menatap Maya, lalu menatap kembali kertas lusuh itu. Tiba-tiba, ruang kelas yang wangi pembersih lantai itu terasa sangat pengap. Angka 20.000 yang ia agungkan sebagai jawaban benar, mendadak terasa seperti sebuah kebohongan besar. Ia melihat tangan Maya yang kecil, dengan kuku yang sedikit hitam karena membantu ibunya mengupas bawang, memegang pensil pendek yang sudah hampir habis.
Bu Guru mundur satu langkah. Marahnya belum hilang sepenuhnya, tapi ia mendadak merasa seperti seorang penjahat yang baru saja memaksa seseorang untuk mengakui bahwa matahari itu dingin.
“Hapus,” bisik Bu Guru, suaranya kini retak, tak lagi menggelegar. “Hapus semua itu, Maya. Tulis saja angka dua puluh ribu. Biar nilaimu bagus.”
Maya menatap gurunya. Ia mengambil penghapus, namun ia tidak menghapus baris tentang ayahnya. Ia justru menghapus seluruh angka di kertas itu hingga putih kembali.
“Kenapa dihapus semua?” tanya Bu Guru, tertegun.
“Karena di rumah kami,” suara Maya sangat pelan namun tajam, “matematika selalu berakhir dengan nol, Bu. Tidak peduli seberapa keras kami menghitungnya.”
***
Bu Guru menyambar kertas itu. Suara kertas yang tertarik kasar terdengar seperti sobekan kain di keheningan kelas yang mencekam. Teman-teman Maya menoleh, beberapa menahan napas, beberapa berbisik. Di papan tulis, angka 100.000 masih berdiri tegak, bersih, dan angkuh.
“Berdiri, Maya!” perintah Bu Guru. Suaranya tidak lagi sekadar tegas; ada nada tersinggung di sana, seolah-olah kejujuran Maya adalah sebuah pembangkangan sipil.
Maya berdiri. Kakinya yang kecil gemetar di dalam sepatu yang ujungnya sudah mulai menganga.
“Baca apa yang kamu tulis,” ujar Bu Guru, menyodorkan kertas itu ke depan wajah Maya. “Baca dengan keras agar teman-temanmu tahu kenapa jawabanmu salah. Baca supaya kamu sadar kalau soal matematika tidak butuh drama!”
Maya diam. Bibirnya terkatup rapat.
“Baca!” bentak Bu Guru lagi. “Atau saya beri kamu nilai nol untuk satu semester!”
Dengan tangan gemetar, Maya menerima kertasnya. Suaranya lirih, nyaris seperti bisikan angin di celah jendela. “Seratus ribu dikurangi beras dua kilo yang kutuannya banyak…”
“Henti!” Bu Guru memotong, tawanya getir. “Beras berkutu tidak ada hubungannya dengan pengurangan, Maya! Di toko mana pun, harga beras itu tetap, mau ada kutu atau tidak. Kenapa kamu harus menulis ‘kutu’ di sini?”
“Karena kalau ada kutunya, harganya cuma tujuh ribu seilo, Bu,” jawab Maya, kini matanya menatap langsung ke mata gurunya. “Ibu saya tidak bisa beli yang harga dua belas ribu. Ibu Guru bilang soal ini tentang logika belanja. Logika saya adalah mencari yang paling murah supaya bisa beli obat maag.”
Keheningan di kelas itu mendadak terasa berat, seolah oksigen perlahan-lahan disedot keluar. Bu Guru tertegun sejenak, namun egonya sebagai pendidik yang “benar” belum runtuh.
“Lalu ini?” Bu Guru menunjuk baris berikutnya dengan telunjuk yang gemetar. “Cicilan panci? Tambal ban? Apa urusannya dengan soal belanja di pasar?”
“Ban motor Ibu meletus kemarin sore saat mengantar saya, Bu,” suara Maya mulai mengeras, ada nada kemarahan yang jujur di sana. “Kalau tidak ditambal, Ibu tidak bisa berangkat kerja semalam. Kalau Ibu tidak kerja, angka seratus ribu di soal ini bahkan tidak akan pernah ada di tangan kami! Ibu Guru bilang matematika itu pasti. Tapi bagi kami, yang pasti itu cuma ban bocor dan penagih utang!”
Beberapa murid di barisan depan menunduk. Bu Guru mundur selangkah, punggungnya menabrak meja kayu yang berat. Ia melihat kertas di tangan Maya bukan lagi sebagai lembar jawaban, melainkan sebagai cermin yang retak.
“Dan ini…” Bu Guru menunjuk baris terakhir dengan suara yang mendadak mengecil. “…uang yang dicuri Ayah?”
Maya menarik napas panjang. Dadanya sesak. “Iya. Ayah pulang jam tiga pagi. Dia tidak butuh matematika, Bu. Dia cuma butuh uang untuk judi. Dia mengambil sisa uang belanja di bawah bantal. Jadi, seratus ribu dikurangi semua itu hasilnya bukan dua puluh ribu. Hasilnya adalah nol. Dan besok, kami harus mulai menghitung dari angka minus lagi.”
Kertas itu terlepas dari tangan Maya, melayang jatuh ke lantai yang dingin.
Bu Guru menatap kertas itu, lalu beralih menatap papan tulis. Di sana, angka-angka yang ia tulis tadi pagi—angka-angka yang ia anggap sebagai kebenaran mutlak—mendadak tampak seperti barisan hantu yang tidak punya nyawa. Ia melihat kapur di tangannya, benda putih kecil yang biasanya ia gunakan untuk memberi nilai, kini terasa seberat bongkahan batu.
Ia ingin marah. Ia ingin menghukum Maya karena telah menghancurkan otoritas keilmuannya. Namun, saat ia melihat mata Maya yang kering tanpa air mata—mata yang terlalu tua untuk anak seusianya—Bu Guru sadar bahwa dialah yang sebenarnya gagal dalam pelajaran logika.
“Hapus saja semuanya, Maya,” bisik Bu Guru. Tangannya gemetar saat ia meletakkan penghapus papan tulis di atas meja Maya. “Hapus… jangan biarkan angka-angka itu menyakitimu lagi.”
***
Bel berbunyi, nyaring dan menyakitkan. Maya tetap duduk, tangannya masih memegang penghapus yang diberikan Bu Guru, namun ia tak mampu menggerakkannya.
Pintu kelas terbuka. Petugas sekolah masuk dengan riang, membagikan kotak makan berwarna perak mengkilap ke setiap meja. “Ayo anak-anak, ini Makan Bergizi Gratis dari Pemerintah! Ada susu, ada telur, ada buah! Habiskan ya!”
Suasana kelas yang tegang mendadak cair. Teman-teman Maya bersorak, bunyi plastik dibuka dan denting sendok memenuhi ruangan. Bau nasi hangat dan ayam goreng menyeruak, mencoba mengusir bau kapur yang menyesakkan tadi.
Bu Guru mendekat ke meja Maya. Kemarahannya sudah luntur, berganti menjadi rasa kasihan yang canggung. Ia meletakkan satu kotak makan di depan Maya.
“Makanlah, Maya,” bisik Bu Guru lembut, mencoba menyentuh bahu anak itu. “Lupakan soal tadi. Isi perutmu dulu. Kamu tidak perlu memikirkan angka-angka itu sekarang.”
Maya menatap kotak makan itu. Di atas tutupnya ada gambar anak-anak tersenyum dengan pipi kemerahan.
“Bu…” suara Maya sangat pelan, nyaris hilang tertelan suara tawa teman-temannya.
“Iya, Nak?”
“Kalau saya makan ini sekarang… apakah besok Ibu saya tidak usah beli beras lagi?”
Bu Guru terdiam. Ia tidak punya jawaban untuk itu.
“Tadi di soal… Ibu Guru bilang kalau uang seratus ribu dikurangi belanjaan, sisanya dua puluh ribu,” lanjut Maya sambil membuka kotak makannya dengan gerakan mekanis. Ia melihat sebutir telur rebus yang bulat sempurna. “Berarti telur ini harganya gratis ya, Bu? Tidak mengurangi uang di dompet Ibu saya?”
“Iya, Maya. Ini gratis. Tidak ada yang dikurangi.”
Maya mengambil telur itu, memandangnya lama, lalu mulai menangis. Bukan tangis yang keras, hanya air mata yang jatuh satu per satu membasahi nasi putih di kotaknya.
“Kenapa menangis? Harusnya kamu senang, kan?” tanya Bu Guru panik.
“Saya cuma bingung, Bu…” isak Maya. “Kenapa di sekolah semuanya jadi gratis dan mudah, tapi begitu saya melangkah keluar pintu pagar itu, semuanya jadi mahal dan menakutkan? Kenapa matematika di sini dan di rumah saya tidak pernah bisa ketemu?”
Maya mulai menyuap nasinya. Ia mengunyah dengan patuh, seperti mesin. Ia memakan “gizi” itu dengan sisa air mata yang masih mengalir di pipinya. Ia tidak melawan, ia tidak pergi, ia tetap menjadi murid penurut yang memakan pemberian negara.
Namun, di papan tulis, Bu Guru melihat jejak tulisan Maya yang belum terhapus sempurna: “- (Uang yang dicuri Ayah) = 0”.
Angka nol itu seolah-olah menertawakan kotak makan mewah di meja Maya. Seberapa banyak pun gizi yang dimasukkan ke perut anak itu hari ini, besok pagi ia akan terbangun kembali di sebuah rumah di mana matematika tetaplah sebuah hantu yang mencekik leher.
Bu Guru kembali ke mejanya, duduk mematung, sementara di depannya, satu kelas penuh dengan anak-anak yang sedang mengunyah dengan lahap—sebuah pesta kecil di atas reruntuhan logika yang baru saja dihancurkan oleh seorang anak kecil bernama Maya.
Cerpen Lais Abid
Tepian Kali Cikumpa Depok pada pagi yang masih gerimis, Februari 2026
Masih banyak cerita-cerita yang lebih menggugah ada di sini dan klik di sini atau di aplikasi MUDICO

Tidak ada komentar